BANDA ACEH — Langit duka menyelimuti Tanah Rencong. Dalam satu hari, Aceh kehilangan dua sosok ulama kharismatik yang selama ini menjadi rujukan keilmuan dan teladan moral bagi masyarakat. Kepergian Abu H. Usman bin Ali dan Aba H. Asnawi bin Tgk Ramli, menjadi kehilangan mendalam yang dirasakan lintas generasi.
Pemerintah Aceh bergerak cepat menyampaikan duka dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendoakan kedua ulama tersebut. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, memimpin langsung doa di Kota Jantho, Kamis siang pada 12 Februari 2026, sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar keduanya.
“Mari sama-sama kita menghadiahkan ummul quran kepada beliau sekalian,” ujar Mualem, sapaan akrab gubernur, di hadapan masyarakat.
Kepergian Abu Kuta Krueng—pimpinan Pondok Pesantren Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng—terjadi di RSUD Zainoel Abidin sekitar pukul 04.30 WIB, setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif. Sosoknya dikenal luas sebagai ulama yang konsisten membina santri dan masyarakat dengan pendekatan dakwah yang sejuk.
Sementara itu, Aba Asnawi, pimpinan Pondok Pesantren Budi Mesja Lamno, juga berpulang pada hari yang sama. Kepergiannya menambah daftar panjang ulama kharismatik Aceh yang meninggalkan jejak mendalam dalam pengembangan pendidikan dayah dan pembinaan umat.
Dalam pernyataannya, Gubernur menegaskan bahwa kehilangan ini bukan hanya dirasakan oleh keluarga dan santri, tetapi oleh seluruh masyarakat Aceh yang selama ini mendapatkan pencerahan dari ajaran keduanya.
“Kami sangat berduka atas kehilangan dua ulama besar yang telah berjasa menyebarkan ilmu dan kebaikan di Aceh. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya,” kata Muzakir Manaf.
Lebih dari sekadar ungkapan duka, Pemerintah Aceh memandang momen ini sebagai pengingat pentingnya menjaga kesinambungan nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan para ulama. Tradisi keilmuan dayah, keteladanan akhlak, serta semangat pengabdian kepada umat menjadi warisan yang harus terus dirawat.
Di tengah suasana haru, masyarakat Aceh diimbau untuk tetap bersatu dalam doa dan amal. Warisan spiritual dan intelektual yang ditinggalkan kedua ulama tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan menjadi pijakan untuk melanjutkan perjuangan membangun peradaban yang berakar pada nilai-nilai keislaman.
Kepergian dua tokoh ini menjadi duka kolektif—namun juga sekaligus panggilan moral bagi generasi penerus untuk menjaga cahaya ilmu yang telah mereka nyalakan. [Adv]

