SABANG- Pagi di Sabang belum sepenuhnya terang ketika suara azan menggema dari Masjid Al Falah. Di tempat itu, seorang imam mencoba menghidupkan kembali sesuatu yang kian jarang: kedekatan pemuda dengan masjid.
Muchtar Andhika, yang akrab disapa Tgk Muchtar, memilih menyampaikan pesannya secara sederhana, tetapi berulang. Ia mengajak generasi muda Islam untuk kembali meramaikan masji, bukan hanya saat hari besar, tetapi dalam rutinitas harian, terutama salat subuh.
Baginya, persoalan ini bukan sekadar soal ibadah. Ia melihatnya sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan moral di tengah derasnya arus globalisasi. Informasi datang tanpa jeda, membawa nilai yang tak selalu sejalan dengan tradisi dan ajaran agama.
“Pengetahuan itu penting, tapi harus dibarengi dengan pengetahuan agama,” ujarnya, Ahad, 26 April 2026.
Di tengah perubahan zaman, kata dia, godaan hidup menjadi semakin kompleks. Ia menyinggung maraknya penyalahgunaan narkoba hingga pergaulan bebas yang kian sulit dibendung. Dalam kondisi seperti itu, pendekatan struktural saja dianggap tak cukup.
“Tak bisa hanya aparat atau orang tua. Semua kembali ke diri kita—bagaimana keimanan dan ketakwaan,” katanya. Sebuah pandangan yang menempatkan kesadaran individu sebagai benteng utama.
Namun, seruan itu tak berhenti pada pemuda. Tgk Muchtar juga mengajak orang tua, tokoh masyarakat, hingga aparatur desa untuk ikut mengambil peran. Baginya, membangun kedekatan generasi muda dengan masjid adalah kerja kolektif, bukan tugas satu pihak.
Masjid, dalam pandangannya, bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang pembentukan karakter. Ia percaya, ketika pemuda mulai akrab dengan masjid, lingkungan sosial akan ikut berubah, lebih tertib, lebih aman, dan menjauh dari perilaku menyimpang.
Seruan itu mungkin terdengar klasik. Namun, di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, pesan semacam ini justru menemukan relevansinya kembali.
Di Ujong Kareung, upaya itu dimulai dari hal sederhana: menjaga agar saf-saf subuh tak lagi lengang, dan memastikan generasi muda tak sepenuhnya kehilangan arah di tengah derasnya arus dunia.
