![]() |
| Ilustrasi (KabarAceh.co/AI) |
JAKARTA — Bursa saham Indonesia kembali melanjutkan reli pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Setelah melonjak lebih dari 7 persen sehari sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup menguat 2,71 persen atau naik 155,73 poin ke level 5.902.
Kenaikan dua hari berturut-turut itu menjadi sinyal bahwa pasar mulai merespons positif langkah agresif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang sempat tertekan akibat gejolak global dan derasnya arus keluar modal asing.
Sepanjang perdagangan, mayoritas saham bergerak di zona hijau. Sebanyak 600 saham menguat, 156 saham melemah, dan 203 saham lainnya stagnan. Dari sepuluh emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, sembilan di antaranya ditutup menguat.
Saham-saham perbankan kembali menjadi motor utama penguatan indeks.
Saham BBCA melonjak 9,71 persen menjadi Rp5.650 per saham. Saham BBRI naik 3,23 persen ke level Rp2.880, sementara BMRI menguat 4,16 persen menjadi Rp4.260.
Di sektor energi dan infrastruktur, saham BREN ditutup naik 3,18 persen ke Rp4.220. Adapun saham DCII menguat 3,83 persen menjadi Rp180.150.
Kinerja positif juga terlihat pada saham TLKM yang melesat 7,25 persen ke Rp2.810. Sementara saham ASII naik tipis 0,64 persen menjadi Rp4.700.
Di antara saham-saham berkapitalisasi besar, hanya AMMN yang ditutup melemah setelah terkoreksi 2,93 persen ke level Rp3.310.
Reli pada perdagangan Rabu menjadi kelanjutan dari lonjakan signifikan yang terjadi sehari sebelumnya ketika IHSG ditutup naik 7,57 persen ke level 5.746. Dalam dua hari perdagangan, indeks berhasil menambah lebih dari 550 poin dan memangkas sebagian tekanan yang membebani pasar sejak awal tahun.
Analis menilai penguatan tersebut tidak lepas dari respons positif investor terhadap kebijakan moneter terbaru Bank Indonesia.
Tim Riset [Phintraco Sekuritas](https://www.phintracosekuritas.com?utm_source=chatgpt.com) menilai sentimen utama berasal dari penguatan nilai tukar rupiah setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Selain menaikkan BI Rate, Bank Indonesia juga memperkuat berbagai instrumen stabilisasi pasar keuangan. Otoritas moneter meningkatkan struktur bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk berbagai tenor, menurunkan biaya lindung nilai atau hedging swap bagi investor asing sebesar 10 persen, serta membuka kembali fasilitas repo bagi perbankan.
Kebijakan tersebut dinilai sebagai upaya komprehensif untuk menarik kembali aliran dana asing yang dalam beberapa bulan terakhir terus keluar dari pasar domestik.
“Bank Indonesia memandang perlunya menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain yang merupakan upaya untuk mendorong masuknya aliran investasi asing,” tulis Phintraco dalam riset hariannya.
Di luar kebijakan moneter, pasar juga merespons sejumlah sinyal dukungan dari pemerintah dan parlemen. Dewan Perwakilan Rakyat disebut telah berkoordinasi dengan sejumlah lembaga keuangan nasional seperti Danantara Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, PT Taspen (Persero), serta kelompok bank Himbara untuk membahas langkah strategis dalam menjaga stabilitas pasar modal.
Salah satu opsi yang mengemuka adalah rencana pembelian kembali saham atau buyback pada sejumlah bank pelat merah yang tercatat di bursa.
Bagi investor, sinyal koordinasi antarotoritas tersebut memberi pesan bahwa pemerintah tidak ingin tekanan di pasar keuangan berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa reli yang terjadi dalam dua hari terakhir belum sepenuhnya menghapus risiko yang masih membayangi pasar. Rupiah masih berada dalam tekanan, suku bunga global tetap tinggi, dan arus modal asing belum sepenuhnya berbalik masuk ke Indonesia.
Namun setidaknya, setelah berbulan-bulan berada dalam tren pelemahan, pasar mulai menemukan alasan untuk kembali optimistis.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah penguatan ini akan menjadi awal pemulihan yang lebih berkelanjutan, atau sekadar reli jangka pendek di tengah pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Untuk sementara, investor tampaknya memilih menikmati momentum positif yang mulai kembali hadir di lantai bursa.


