BANDA ACEH - Fenomena antrean kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di daerah.
Menanggapi situasi itu, anggota DPRA dari Partai Aceh, Irfansyah, mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terjebak panic buying atau pembelian berlebihan karena kepanikan.
Menurut Irfansyah, antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU bukan semata-mata disebabkan oleh kelangkaan stok BBM, melainkan lebih karena lonjakan permintaan secara tiba-tiba akibat kekhawatiran masyarakat terhadap dinamika geopolitik global.
Ia menjelaskan, kekhawatiran tersebut dipicu oleh meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang dikhawatirkan dapat mengganggu jalur pasokan minyak dunia.
Situasi semakin ramai diperbincangkan setelah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, yang menyebut cadangan operasional BBM nasional berada pada kisaran 20 hari.
Namun Irfansyah menilai terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait angka tersebut. Menurut dia, banyak warga hanya menangkap durasi waktunya tanpa memahami mekanisme ketahanan energi nasional.
“Masyarakat kita banyak yang salah menangkap maksud stok 20 hari itu. Dalam industri migas, cadangan operasional 20 hari adalah angka standar aman yang terus berputar,” kata Irfansyah, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, cadangan tersebut bersifat dinamis karena setiap hari terjadi produksi maupun impor yang masuk untuk mengisi kembali stok yang digunakan.
“Artinya setiap hari ada produksi dan impor yang masuk untuk mengisi kembali cadangan tersebut, bukan berarti dalam 20 hari bensin kita habis total,” ujarnya.
Menurut Irfansyah, perusahaan energi nasional seperti Pertamina secara rutin menjaga ketahanan stok pada level tersebut sebagai prosedur standar nasional dalam menjaga pasokan energi.
Karena itu, ia menilai kondisi yang tampak seperti kelangkaan di lapangan lebih disebabkan oleh lonjakan permintaan secara tiba-tiba akibat kepanikan masyarakat.
“Yang membuatnya tampak langka di lapangan saat ini mungkin adalah lonjakan permintaan yang tiba-tiba karena warga panik, sehingga distribusi di SPBU tidak sempat mengimbangi kecepatan pembelian,” katanya.
Politikus yang akrab disapa Dek Fan itu juga memahami bahwa kepanikan warga memiliki latar belakang psikologis yang kuat. Ia menyebut antrean panjang hingga ke badan jalan mengingatkan masyarakat pada masa-masa sulit pascabencana besar di Aceh.
“Kita memahami trauma masyarakat. Ini kali kedua warga Aceh harus mengular di SPBU setelah masa-masa sulit bencana dulu. Namun situasi hari ini berbeda. Secara teknis, jalur distribusi ke Aceh masih sangat normal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah bersama Pertamina terus memantau perkembangan harga minyak dunia serta dampak dari ketegangan geopolitik global. Hingga saat ini, kata dia, pasokan BBM ke Aceh masih dalam kondisi aman.
Irfansyah mengingatkan bahwa aksi borong BBM justru dapat menciptakan kelangkaan buatan yang berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
“Jika kita semua tertib dan tidak panic buying, antrean di SPBU akan normal kembali dalam hitungan hari,” katanya.
Ia juga meminta pihak BPH Migas serta aparat terkait untuk memastikan tidak terjadi praktik penimbunan BBM di tengah situasi sensitif seperti saat ini.
Sebagai wakil rakyat, Irfansyah menyatakan bahwa dirinya bersama anggota DPRA lainnya akan terus berkoordinasi dengan BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara guna memastikan kuota BBM untuk Aceh tetap aman di tengah dinamika geopolitik global.
“Mari kita jaga kondusifitas Aceh. Jangan sampai energi kita habis hanya untuk mengantre sesuatu yang sebenarnya stoknya tersedia,” ujar Irfansyah.

