Banda Aceh — Menjelang Bulan Suci Ramadhan 1447 H, Pemerintah Aceh mengambil langkah cepat memastikan kenyamanan masyarakat terdampak bencana. Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, S.IP, MPA, menegaskan percepatan penanganan hunian sementara (huntara) dan distribusi logistik menjadi fokus utama pemerintah.
“Fokus utama saat ini adalah memindahkan pengungsi dari tenda darurat ke huntara yang lebih layak,” kata M. Nasir saat memberikan keterangan pers di Banda Aceh, Selasa (17/2/2026). Pernyataan ini disampaikan usai rapat koordinasi evaluasi progres penanganan bencana sekaligus kesiapan menyambut Ramadhan di kantor Gubernur Aceh.
Hingga saat ini, sebanyak 6.060 unit huntara telah dibangun, namun masih ada warga yang bertahan di tenda darurat. M. Nasir menekankan, stabilitas kebutuhan pokok dan kelayakan tempat tinggal adalah harga mati menjelang Ramadhan. “Tidak boleh ada masyarakat yang tidak memiliki kepastian tempat tinggal. Hunian bukan sekadar tempat berteduh, tapi menyangkut martabat dan perlindungan warga,” ujarnya.
Selain huntara, pemerintah telah merampungkan 104 unit hunian tetap (huntap) di Aceh Utara. Bagi warga yang masih menunggu proses pembangunan, penyaluran Dana Tunggu Harian (DTH) sebesar Rp600 ribu per orang tetap dijamin berjalan lancar.
Terkait logistik, Sekda menekankan pentingnya koordinasi dan akurasi data. “Hindari pemborosan anggaran. Koordinasi antara BPBA, Dinas Sosial, dan kabupaten/kota harus intensif. Pastikan tidak ada wilayah terdampak yang luput dari distribusi logistik,” katanya.
Di sektor kesehatan, M. Nasir menyoroti pemulihan layanan Puskesmas. Meski 307 dari 309 Puskesmas telah beroperasi, penguatan layanan hingga tiga bulan ke depan tetap menjadi prioritas, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Gayo Lues. Trauma healing bagi anak-anak dan perempuan juga mendapat perhatian khusus.
Untuk infrastruktur, pemerintah menargetkan seluruh akses jalan desa kembali normal dalam sebulan ke depan. “Jembatan bailey menjadi solusi prioritas yang ditargetkan rampung pada Juli mendatang,” kata M. Nasir.
M. Nasir menambahkan, menyikapi peringatan BMKG mengenai potensi hujan lebat hingga 25 Februari 2026, tim SAR diharapkan siaga 24 jam. “Kita harap tim SAR bersiaga 24 jam dan terus memperkuat sistem mitigasi berdasarkan pengalaman bencana sebelumnya,” pungkasnya.
Langkah-langkah strategis ini menunjukkan komitmen Pemerintah Aceh dalam memastikan masyarakat terdampak bencana dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan nyaman, aman, dan bermartabat. [Adv]

