BANDA ACEH — Di Aceh, meugang bukan sekadar tradisi. Ia adalah penanda kebersamaan, awal dari suasana religius yang mengiringi datangnya Ramadan. Namun, tahun ini, tradisi itu nyaris teredam oleh bayang-bayang bencana.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Aceh bergerak cepat. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf—akrab disapa Mualem—mengupayakan agar masyarakat tetap dapat menjalankan tradisi meugang seperti biasa, meski sedang berada dalam fase pemulihan pascabencana hidrometeorologi dan gempa.
Upaya itu kini berbuah hasil. Pemerintah pusat melalui Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, merespons permohonan tersebut dengan menyalurkan dana bantuan kemasyarakatan untuk pembelian sapi meugang di 19 kabupaten/kota terdampak.
“Alhamdulillah, Bapak Presiden merespons dengan cepat permintaan masyarakat Aceh. Bantuan dana untuk pembelian sapi meugang telah ditransfer langsung ke daerah,” kata Mualem, Rabu (11/2).
Bagi Pemerintah Aceh, bantuan ini bukan sekadar angka dalam laporan anggaran. Ia menjadi simbol kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang berjuang bangkit. Mualem menegaskan, permohonan bantuan tersebut disampaikan setelah ia melihat langsung dampak kerusakan di lapangan serta mempertimbangkan kedekatan waktu dengan Ramadan.
Di Aceh, meugang memiliki makna sosial yang kuat. Tradisi ini menjadi ruang berbagi, di mana daging dibagikan dan dinikmati bersama keluarga, termasuk bagi mereka yang selama ini jarang merasakan konsumsi daging.
Karena itu, menjaga tradisi ini tetap berlangsung di tengah krisis menjadi bagian dari upaya memulihkan psikologis masyarakat.
Bantuan yang disalurkan pemerintah pusat, atas arahan Presiden, langsung ditransfer ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) masing-masing kabupaten/kota. Mekanisme ini dirancang untuk mempercepat realisasi sekaligus memastikan fleksibilitas pemerintah daerah dalam pelaksanaan teknis.
Gubernur Aceh pun menginstruksikan para bupati dan wali kota agar segera merealisasikan pembelian sapi sesuai alokasi dana yang diterima. Ia menekankan pentingnya distribusi yang merata, tertib, dan tepat sasaran.
Prioritas diberikan kepada warga terdampak bencana serta masyarakat yang masih berada di lokasi pengungsian—mereka yang paling membutuhkan kehadiran negara dalam bentuk nyata.
Penyaluran bantuan ditargetkan rampung paling lambat satu hari sebelum Ramadan 1447 Hijriah. Tenggat waktu ini menjadi krusial, mengingat meugang dilaksanakan tepat menjelang masuknya bulan suci.
Lebih dari sekadar bantuan ekonomi, langkah ini menjadi bagian dari strategi pemulihan sosial. Di tengah keterbatasan akibat bencana, menjaga tradisi berarti menjaga harapan.
Mualem berharap, bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat sekaligus menghadirkan kebahagiaan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Di Aceh, Ramadan selalu dimulai dengan meugang. Dan tahun ini, di balik setiap potong daging yang terbagi, tersimpan cerita tentang kolaborasi, kepedulian, dan upaya menjaga martabat masyarakat di tengah cobaan. [Adv]

