BANDA ACEH - Pelataran Anjong Mon Mata di Komplek Meuligoe Gubernur, Banda Aceh, Senin, 26 Januari 2026, menjadi saksi penguatan kepemimpinan pendidikan di Aceh. Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir melantik 201 kepala sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB di lingkungan Pemerintah Aceh.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni administratif. Di hadapan para kepala sekolah yang baru dilantik, M. Nasir menegaskan bahwa jabatan tersebut memikul tanggung jawab besar dalam menentukan arah masa depan pendidikan Aceh.
Ia mengawali arahannya dengan apresiasi atas capaian Aceh di tingkat nasional. Pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025, Aceh berhasil menembus lima besar nasional—sebuah pencapaian yang dinilai sebagai hasil kerja kolektif para tenaga pendidik.
“Terima kasih atas dedikasi dan kerja keras yang telah mendorong peringkat Aceh,” ujarnya, mengakui kontribusi para insan pendidikan.
Namun di balik capaian itu, tersimpan tantangan serius. M. Nasir mengungkapkan bahwa masih terdapat sekitar 56 ribu anak usia 16–18 tahun di Aceh yang tidak bersekolah. Angka ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Menurutnya, jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berpotensi menjadi persoalan sosial jangka panjang. “Ini bisa menjadi bom waktu bagi pembangunan Aceh,” tegasnya.
Pemerintah Aceh sendiri telah menyalurkan beasiswa kepada lebih dari 93 ribu anak yatim di seluruh jenjang pendidikan sepanjang 2025. Namun intervensi tersebut belum sepenuhnya mampu menekan angka putus sekolah.
Dalam konteks itu, peran kepala sekolah menjadi krusial. Mereka diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menjadi pemimpin yang mampu menciptakan solusi di tingkat satuan pendidikan.
M. Nasir menekankan bahwa pelantikan ini adalah bentuk kepercayaan negara. Kepemimpinan kepala sekolah, menurutnya, akan menentukan kualitas lingkungan belajar serta arah pengembangan peserta didik.
“Sekolah tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga kepemimpinan yang berkualitas,” ujarnya.
Tantangan lain yang turut disorot adalah dampak pascabencana yang masih dirasakan sejumlah sekolah di Aceh. Dalam kondisi tersebut, kepala sekolah diminta menjadi motor pemulihan sekaligus penggerak peningkatan prestasi.
Lingkungan belajar yang inklusif dan aman juga menjadi perhatian utama. Pemerintah Aceh mendorong setiap sekolah menjadi ruang yang ramah bagi seluruh anak, tanpa terkecuali.
Selain itu, para kepala sekolah diminta turut menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Pelantikan ini turut dihadiri sejumlah pejabat daerah, di antaranya Anggota DPRA Yahdi Hasan, Asisten Pemerintahan Syakir, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin, Kepala Badan Kepegawaian Aceh Abdul Qohar, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh Akkar Arafat.
Dari Anjong Mon Mata, pesan itu ditegaskan: bahwa masa depan pendidikan Aceh tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi oleh kepemimpinan di setiap sekolah. Dan di tangan 201 kepala sekolah yang baru dilantik, harapan itu kini diletakkan. [Adv]

