![]() |
| Dr. H. Said Mulyadi, SE, M.Si |
Banda Aceh – Pendiri MFF Syndicate, M. Fauzan Febriansyah, menilai mantan Bupati Pidie Jaya Dr. Said Mulyadi merupakan salah satu figur yang layak dipertimbangkan untuk memimpin PT Pembangunan Aceh (PT PEMA Perseroda). Penilaian tersebut didasarkan pada kebutuhan strategis perusahaan dalam menghadapi fase transformasi menuju perusahaan investasi daerah yang mampu mengoptimalkan momentum kebangkitan sektor energi Aceh.
Menurut Fauzan, pengisian jabatan Direktur Utama PT PEMA tidak seharusnya hanya mempertimbangkan aspek manajerial perusahaan, tetapi juga kemampuan membangun jejaring strategis, mengorkestrasi kepentingan pemerintah, dunia usaha, serta investor nasional dan global.
“PT PEMA kini berada pada titik yang menentukan. Perseroan membutuhkan pemimpin yang mampu menerjemahkan potensi sumber daya alam Aceh menjadi investasi produktif, industri baru, dan penerimaan daerah yang berkelanjutan.”
Fauzan menjelaskan, dalam dua tahun terakhir posisi PT PEMA semakin strategis seiring meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan industri hilir energi di Aceh. Perseroan telah mengambil peran dalam penjajakan pengembangan ekosistem gas bumi melalui kerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN), khususnya dalam penyusunan kajian pemanfaatan gas dari Wilayah Kerja Andaman sebagai fondasi pengembangan industri berbasis gas di Aceh.
Pada saat yang sama, Pemerintah Aceh juga terus mendorong agar gas dari Blok Andaman tidak hanya diekspor sebagai komoditas mentah, tetapi menjadi bahan baku industrialisasi melalui pengembangan kawasan industri di KEK Arun Lhokseumawe. Agenda hilirisasi tersebut dipandang sebagai salah satu peluang ekonomi terbesar Aceh dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut Fauzan, kondisi tersebut menuntut hadirnya Direktur Utama yang memiliki tiga kapasitas utama.
Pertama, kemampuan membangun komunikasi lintas lembaga dengan kementerian, BUMN energi, SKK Migas, investor nasional maupun internasional.
Kedua, pengalaman memimpin organisasi besar dengan tata kelola pemerintahan yang kompleks.
Ketiga, kemampuan membaca arah kebijakan pembangunan nasional sehingga PT PEMA mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong investasi.
Dalam konteks tersebut, MFF Syndicate menilai rekam jejak Dr. Said Mulyadi selama memimpin Kabupaten Pidie Jaya menjadi modal yang relevan. Pengalaman sebagai kepala daerah memberikan pemahaman mengenai sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, pengelolaan pembangunan, pengambilan keputusan strategis, serta kemampuan membangun kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Memimpin PEMA bukan sekadar mengelola perusahaan. Direktur Utama harus menjadi duta investasi Aceh. Ia harus mampu duduk dalam satu meja dengan investor, kementerian, BUMN, hingga mitra internasional untuk memastikan proyek-proyek strategis benar-benar terealisasi.”
Fauzan menambahkan bahwa perusahaan milik daerah saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu. Persaingan memperoleh investasi semakin ketat, sementara proyek-proyek energi membutuhkan kepastian tata kelola, kepemimpinan yang kredibel, serta kemampuan melakukan negosiasi tingkat tinggi.
Karena itu, menurutnya, PT PEMA memerlukan figur yang tidak hanya memahami aspek bisnis, tetapi juga memiliki legitimasi kepemimpinan, pengalaman birokrasi, kemampuan komunikasi publik, dan jejaring nasional.
MFF Syndicate juga menilai keberhasilan PT PEMA dalam lima tahun ke depan seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya dividen kepada Pemerintah Aceh, melainkan dari kemampuan perusahaan menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pembangunan industri hilir, penciptaan lapangan kerja, penguatan kemitraan strategis, peningkatan investasi, serta tumbuhnya rantai pasok industri lokal.
“Aceh tidak boleh berhenti sebagai daerah penghasil sumber daya alam. PT PEMA harus menjadi motor lahirnya industri baru. Karena itu perusahaan memerlukan kepemimpinan yang berpikir melampaui administrasi perusahaan dan mampu membangun ekosistem investasi.”
Fauzan menilai transformasi PT PEMA tidak cukup hanya ditopang oleh kompetensi teknis di sektor energi, melainkan memerlukan kepemimpinan yang mampu membangun kepercayaan (trust building) di mata investor, pemerintah pusat, dan mitra strategis. Menurutnya, perusahaan daerah yang mengelola proyek-proyek bernilai besar seperti hilirisasi gas dan pengembangan kawasan industri membutuhkan pemimpin yang terbiasa mengambil keputusan strategis, memahami dinamika birokrasi, sekaligus memiliki kemampuan menyatukan berbagai kepentingan dalam satu agenda pembangunan ekonomi Aceh. Dalam konteks tersebut, rekam jejak Dr. Said Mulyadi sebagai kepala daerah dinilai memberikan modal kepemimpinan yang relevan untuk mengawal fase transformasi PT PEMA.
“Direktur Utama PT PEMA ke depan tidak cukup hanya menjadi chief executive officer, tetapi juga harus berperan sebagai chief investment ambassador bagi Aceh. Ia harus mampu meyakinkan investor, membangun komunikasi dengan pemerintah pusat, BUMN, dan pelaku industri, serta memastikan peluang besar seperti Blok Andaman benar-benar bermuara pada investasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja. Dari perspektif kebutuhan strategis perusahaan, Dr. Said Mulyadi merupakan salah satu figur yang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk memainkan peran tersebut,” tutup Fauzan.
Tentang MFF Syndicate
MFF Syndicate merupakan kelompok kajian independen yang bergerak di bidang politik, hukum, ekonomi, dan kebijakan publik. Lembaga ini secara konsisten memberikan analisis strategis terhadap isu-isu pembangunan, tata kelola pemerintahan, investasi, dan transformasi ekonomi di Aceh maupun tingkat nasional.
