Notification

×

Iklan

GA Adsense

Terkait Dugaan Oknum Pejabat Hina Wartawan, ini Kata Ketua PWI Aceh

18 Feb 2020 | 23.58 WIB Last Updated 2020-08-09T10:31:56Z


Ketua PWI Aceh Tarmilin

 
KABAR ACEH.co | Simeulue -- Pasca mencuatnya dugaan proyek fiktif pekerjaan pengaspalan jalan simpang Batu Ragi arah simpang Patriot, tampaknya memantik reaksi Bupati Simeulue Erli Hasyim. Boleh jadi, sang Bupati gerah akibat munculnya pemberitaan sejumlah media pers terhadap proyek bersumber dari anggaran DOKA 2019 itu, Selasa (18/2/2020).

Entah kepanasan atau mungkin teled*r orang nomor satu di Kabupaten Simeulue itu menuliskan statemen bernada hinaan dan pelecehan terhadap profesi wartawan. Didalam salah satu group WhatsApp Erli Hasim diduga menyebut wartawan "taik".

Begini tulisnya,
"Yakhuk Wartawannak wartawan dai termasuk anggota dprk betul2 dakhuk lagunokan mata kepala. Proyek yambanak kan jubeteng Ikharajokan Aleng Amabaan menuju Mitem. Memang ruasni Simpang Batu Ragi. Luar biaso yakhuk manusianak, u harapakan mifeani sado anggita sas dade ana sabe meea tanangmi, milau ekhek beserek. Bomen yakhuk e lababancak sabe ita. Feami engen2 sabe amak, bofien serek mea2 falawa lele imbau.

Kurang lebih begini artinya,
"(Wartawan itu wartawan "Taik" termasuk anggota DPRK, betul-betul tidak menggunakan mata kepala, proyek yang satu itukan yang sedang dikerjakan Aleng Amabaan menuju Mitem, memang ruasnya Simpang Batu Ragi, luar biasa manusianya, saya harapkan kepada semua Group SAS jangan-tenang saja. Bicaralah, kalau begitu diinjak injak terus kita, kalian diam-diam saja. Kalau cerita kalian setinggi gunung Sibau.

Menanggapi dugaan pelecehan yang dilakukan orang nomor satu di Simeulue itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh angkat bicara. Menurut wartawan senior ini, ucapan Bupati Erli terhadap wartawan dalam group WhatsApp yang mengarah pada perbuatan pelecehan profesi wartawan, sangatlah tidak pantas. Itu sebabnya, Ia menyayangkan ucapan bupati tersebut. 

"Kalau benar Bupati telah melakukan pelecehan terhadap profesi wartawan, tentu sangat kita sayangkan. Ini perlu ada klarifikasi. Selayaknya seorang pimpinan publik, Bupati tidak pantas bersikap demikian, karena setiap ucapannya jadi pijakan.

"Melakukan pelecehan terhadap profesi wartawan tentu sebuah sikap tidak terpuji. Saya juga berharap terhadap wartawan untuk lebih berhati-hati dalam bertugas. Kenapa ada pelecehan, perlu juga ditelusuri. "ujar Ketua PWI Aceh Tarmilin. 18/2/2020, dikutip dari Harianaceh.co.id

Meski begitu, kata Tarmilin, pelecehan terhadap profesi wartawan, bisa terancam pidana."Tentu bisa, karena profesi wartawan dilindungi UU Pers, "tegasnya.

Sementara itu, Bupati Simeulue yang dikonfirmasi sejumlah wartawan tak membantah ucapannya di group WhatsApp bernama SAS itu. Namun, ia berdalih, tak bermaksud melecehkan profesi wartawan. 

Sang bupati pun lantas mengurai awal persoalan, katanya, polemik bermula dari hasil kunjungan kerja komisi C DPRK Simeulue tentang temuan dugaan proyek fiktif Simpang Batu Ragi arah Simpang Patriot.

Mencuatnya dugaan proyek fiktif tadi membuat orang nomor satu di Simeulue itu gerah. Ia pun menuding pemberitaan oknum wartawan tanpa konfirmasi.

" Sebenarnya kita tidak niat sedikitpun melecehkan wartawan. Tapi oknumnya. Jadi, jangan dipahami kalimat itu kepada wartawan secara menyeluruh."Begitu ucapakan Erli Hasyim kepada sejumlah wartawan.

"Namun, jika ada kawan kawan yang merasa tersinggung. Atas nama pribadi dan Pemerintah saya minta maaf. "ucapnya.

Ditempat berbeda Ketua Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Distrik Simeulue mengatakan, "masalah seperti ini, harus diselesaikan secara hukum, tidak cukup dengan minta maaf dan pihak berwenang harus menyelesaikan masalah ini dengan bijaksana dan seadil adilnya, agar kejadian serupa tidak lagi terulang.

Penghinaan profesi wartawan itu harus diusut tuntas, agar profesi  yang dilakukan Wartawan sebagai sumber informasi, untuk kita dapat mengetahui hal yang sedang terjadi, tidak lagi diintimidasi.

"Lanjut Sarwadi, "Jikapun ada tulisan dan kata yang menyinggung perasaan, tidak sepantasnya seorang pejabat mengeluarkan kata-kata kotor seperti itu, jika tidak terima wartawan memberitakan sesuatu permasalahan, ya pasti dapat dilakukan dengan hak jawab sehingga dapat diterima oleh seluruh wartawan yang memberitakan," terangnya. [Agm/REL]
×
Berita Terbaru Update