KABAR ACEH CO – Pemerintah Kota Banda Aceh menghadirkan konsep perpustakaan di ruang terbuka melalui program Banda Aceh Outdoor Library yang akan dipusatkan di Taman Bustanussalatin. Program hasil kolaborasi dengan Pemerintah Kota Seoul, Korea Selatan, ini dirancang tidak hanya sebagai ruang membaca, tetapi juga tempat berlangsungnya kegiatan budaya, kreativitas, dan interaksi komunitas.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal melakukan soft launching Banda Aceh Outdoor Library di Pustaka Wilayah Aceh, Sabtu, 7 November 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengenalan program sebelum pelaksanaan di Taman Bustanussalatin.
Banda Aceh Outdoor Library dirancang berlangsung selama delapan pekan, mulai 31 Oktober hingga 20 Desember 2026. Dalam periode itu, panitia menyiapkan 16 hari aktivasi dengan sedikitnya 40 kegiatan yang mencakup literasi, kreativitas, budaya, keluarga, dan komunitas. Lebih dari 50 komunitas dan mitra akan dilibatkan.
Illiza mengatakan, program ini merupakan kesempatan bagi Banda Aceh untuk mengembangkan layanan literasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Membaca, menurut dia, tidak harus selalu berlangsung di dalam gedung perpustakaan.
“Membaca juga bisa dilakukan di taman, di ruang terbuka, bersama keluarga, bersama teman, sambil menikmati suasana kota,” kata Illiza.
Kolaborasi Seoul dan Banda Aceh Kembangkan Literasi Ruang Terbuka
Program ini berawal dari keikutsertaan Banda Aceh dalam Seoul ODA Challenge Project 2026. Dari sejumlah kota di dunia, Banda Aceh terpilih bersama Kota San Salvador Centro di El Salvador.
Melalui program tersebut, Pemerintah Kota Seoul memberikan dukungan teknis dan pengadaan peralatan untuk membantu pengembangan Outdoor Library di Banda Aceh.
Pemerintah Kota Banda Aceh juga mengirimkan tiga perwakilan untuk mengikuti pelatihan selama satu pekan di Seoul. Mereka mempelajari secara langsung konsep perencanaan, pengelolaan, dan operasional perpustakaan di ruang terbuka.
Dalam perencanaan awal bersama Pemerintah Kota Seoul, Taman Bustanussalatin dirancang mampu menampung sekitar 2.000 pengunjung.
Illiza menjelaskan, kegiatan di Outdoor Library tidak hanya berpusat pada aktivitas membaca buku. Pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan mendongeng, mewarnai, permainan tradisional, bedah buku, bedah film, pertunjukan seni, lokakarya budaya, serta berbagai kegiatan kreatif lainnya.
Dengan ragam kegiatan tersebut, pemerintah kota ingin menjadikan ruang publik sebagai tempat belajar dan berinteraksi bagi berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, keluarga, hingga generasi muda.
Ruang Publik, Aktivitas Komunitas, dan Peluang UMKM
Bagi Pemerintah Kota Banda Aceh, pengembangan Outdoor Library juga berkaitan dengan pemanfaatan ruang publik. Kehadiran kegiatan literasi dan budaya di taman diharapkan mendorong masyarakat lebih aktif menggunakan fasilitas kota.
Illiza berharap program ini tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan selama delapan pekan selesai. Ia ingin Banda Aceh Outdoor Library dapat dikembangkan menjadi agenda literasi berkelanjutan, setidaknya dua kali dalam setahun, terutama setelah revitalisasi Taman Bustanussalatin rampung.
Selain manfaat pendidikan dan kebudayaan, kegiatan tersebut dinilai berpotensi membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Meningkatnya kunjungan ke taman dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk mereka.
“Kehadiran masyarakat di Taman Bustanussalatin tentu akan membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi, di mana pelaku UMKM dapat ikut memasarkan produk mereka,” ujar Illiza.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Seoul Metropolitan Government, Tim HanGlobal, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan program tersebut.
Seoul Harapkan Outdoor Library Jadi Simbol Persahabatan
Kepala Divisi Pembangunan Seoul Metropolitan Government, Park Chang-hyun, mengatakan konsep perpustakaan ruang terbuka telah dikembangkan di Seoul untuk meningkatkan kebahagiaan dan kualitas hidup warga melalui kegiatan membaca di tengah kota.
Menurut Park, ruang terbuka dapat dimanfaatkan sebagai tempat masyarakat menikmati waktu luang sekaligus berinteraksi melalui kegiatan budaya dan seni.
“Kota Metropolitan Seoul telah menjadikan kawasan taman menjadi ruang budaya dan kemudian membentangkannya menjadi platform global melalui konektivitas dan perluasannya, kini telah mencapai hingga ke Banda Aceh,” kata Park.
Ia berharap Banda Aceh Outdoor Library dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk membaca, menikmati alam, dan berbagi pengalaman. Taman Bustanussalatin, dengan lingkungan hijaunya, diharapkan menjadi tempat anak-anak, keluarga, dan generasi muda mengenal dunia lebih luas melalui buku.
Park juga menyatakan Pemerintah Kota Seoul akan melanjutkan kerja sama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mendukung pengembangan program tersebut.
“Kami berharap perpustakaan outdoor ini dapat terus hidup dalam jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan yang kokoh antara Seoul dan Banda Aceh,” ujarnya.
Melalui Banda Aceh Outdoor Library, Pemerintah Kota Banda Aceh ingin memperluas cara masyarakat mengakses kegiatan literasi. Taman tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga ruang untuk membaca, belajar, berkarya, dan membangun interaksi sosial. [Adv]

