Monumen PLTD Apung, Sebuah Monumen yang Terbuat dari Kapal


Monumen PLTD Apung sejatinya merupakan sebuah kapal pembangkit listrik tenaga diesel yang mampu memasok listrik hingga 10,5 megawatt. Saat bersandar di dermaga daerah Ulee Lheue, naasnya kapal ini terseret gelombang tsunami yang tingginya mencapai 9 meter. Kini kapal tersebut disulap menjadi situs wisata berupa museum untuk mengenang peristiwa maha dahsyat sekaligus sebagai media edukasi.

Secara geografis, Monumen PLTD Apung terletak pada Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Letaknya juga sangat strategis, berjarak kurang lebih 5 kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Lokasi ini merupakan tempat kapal tersebut terdampar, usai terhembas gelombang tsunami sejauh 5 kilometer.

Bayangkan saja betapa kuatnya gelombang tsunami, sehingga kapal yang mulanya bersandar di dermaga bisa bergeser sejauh 5 kilometer di tengah-tengah pemukiman warga. Pasca bencana tsunami, serta Aceh yang berangsur-angsur pulih, pemerintah pun akhirnya berinisiatif untuk mengubah kapal ini menjadi sebuah monumen yang kini dikenal dengan Monumen PLTD Apung.

Kapal yang memiliki panjang 63 meter, serta luas mencapai 1.900 meter ini berbobot sekitar 2.600 ton. Kala itu, sekitar 11 awak yang tengah bertugas, serta beberapa warga didalamnya hanya menyisakan satu orang selamat atas peristiwa yang mengundang air mata serta memilukan tersebut. Monumen PLTD Apung ini berdiri di atas lahan seluas 25.000 meter persegi dan mulai dibangun pada tahun 2008.

Seluruh bagian kapal pun masih utuh, didalam kapal ruangan diubah dengan pengecatan ulang sehingga suasana horror dan mengerikan kini tak nampak lagi. Didalam Monumen PLTD Apung ini, wisatawan bisa menemukan foto-foto yang memperlihatkan betapa dahsyatnya tsunami yang melanda Aceh kala itu. Sedangkan pada bagian luar kapal, tidak dilakukan pengecatan dan dibiarkan seperti sedia kala.

Dinding kapal yang terbuat dari baja nampak kusam dan lusuh, hal ini memang disengaja sehingga wisatawan bisa merasakan dan mengingat peristiwa yang mengerikan tersebut. Di Monumen PLTD Apung ini pengunjung juga bisa menemukan jangkar didek bawah, tiang-tiang retak, rerumputan yang tersangkut, kabel-kabel putus serta pasir didalam ruangan yang semua sengaja tidak diubah atau dipindah.

Didalam Monumen PLTD Apung, selain bisa ditemukan foto-foto peristiwa tsunami, wisatawan juga akan mendapatkan edukasi tentang pertanda akan terjadinya tsunami, serta fungsi kapal sebelum diterjang tsunami. Selain itu, wisatawan juga bisa melihat sebuah sofa usang yang dibiarkan tergeletak. Kapal ini memang menimpa sebuah rumah warga, sehingga masih ada sisa-sisa perabotan rumah yang bisa dilihat wisatawan di dalam kapal.

Para pengunjung juga bisa menuju ke dek kapal paling atas, untuk menikmati pemandangan sekitar yang cukup memukau. Akan tersaji beberapa panorama seperti samudra yang membentang luas di sebelah utara, serta pemandangan kota dan barisan perbukitan disebelah selatan, barat dan timur. Wisatawan juga diperbolehkan menggunakan teropong untuk menikmati pemandangan tersebut.

Tak hanya Monumen PLTD Apung saja, tak jauh dari kapal ini juga dibangun sebuah tugu yang bertuliskan nama-nama orang dan desa yang menjadi korban dari bencana tsunami. Diatasnya dibuat sebuah jam yang menunjukkan pukul 07.55 WIB, tak lain jam tersebut merupakan waktu terjadinya tsunami. Tugu ini juga dikelilingi semacam tembok, yang di dindingnya terdapat relief tentang terdamparnya Kapal PLTD Apung. [Adv]
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru